Minta Evaluasi PBPH di Siak, Surat Ketua DPRD Direspon Menteri LHK
Lingkungan

Minta Evaluasi PBPH di Siak, Surat Ketua DPRD Direspon Menteri LHK

Siak, Petah.id - Ketua DPRD Siak Indra Gunawan meminta pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengevaluasi Permohonan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di Kecamatan Sungai Apit, Siak.Hal ini disebabkan karena pengajuan PBPH pada Hutan Produksi (HP) dari Koperasi Jasa Mutiara Tasik Belat dan Koperasi Simpan Pinjam Sungai Lubuk Meranti ini diduga hanya digerakkan segelintir orang, tanpa ada skema yang jelas untuk kesejahteraan masyarakat banyak, khususnya masyarakat di Kampung Teluk Lanus, Rawa Mekar jaya, KKecamatan Sungai Apit, Siak."Alhamdulillah surat kami mendapat respon dari Ibu Menteri Siti Nurbaya. Kami diundang rapat di Jakarta akhir pekan lalu, dan semakin terang terlihat bahwa pengajuan izin ini patut diduga hanya menguntungkan segelintir orang, dan mengabaikan kepentingan rakyat banyak khususnya rakyat Teluk Lanus, Rawa Mekar Jaya, Siak," kata Indra dalam keterangannya pada media, Senin (1/5/2023).Dari dua pengajuan PBPH ini belum terdapat program yang menyentuh masyarakat miskin dan miskin ektrim, tidak terdapat program pembangunan jangka panjang dan tidak terlihat keberpihakan secara ekonomi untuk masyarakat tempatan.Bahkan, lanjut Indra, ketika ditanya kepada ketua koperasi apa tujuan dan maksud mengusulkan program PBPH, Ketua koperasi tidak dapat menjawab, seolah-olah Ketua Koperasi tidak tau tentang program yang diajukan."Ada apa ini? Jika para pihak tidak transparan, bukan tidak mungkin akan terjadi konflik vertikal di masyarakat. Apalagi izin prinsip sudah keluar, sementara mayoritas masyarakat tidak tau apa-apa. Siapa di balik pengajuan izin ini? Jangan sampai ngakunya Koperasi tapi hanya mengakomodir kepentingan elit semata," kata Indra."Dari data lapangan yang berhasil kami himpun, di satu wilayah yang sama Teluk Lanus, Rawa mekar jaya dan desa sekitar, ada sekitar 4-5 PBPH yang dikuasai segelintir pihak saja. Bahkan surat penolakan PBPH dari NGO sudah ada sejak Januari 2023 lalu," tambahnya.Dalam rapat  tersebut turut ikut melakukan pembahasan PBPH dihadiri pihak KLHK, DLHK Provinsi, Wakil Bupati Siak Husni Merza dan jajaran, ketua koperasi. Dari hasil pertemuan tersebut, akan ditindaklanjuti pembahasan di daerah yang melibatkan banyak pihak, dan hasilnya akan dilaporkan kepada Menteri LHK. "Kami berharap Ibu Menteri bersedia mempertimbangkan pengajuan PBPH di Siak ini. Jika perlu batalkan izin prinsip jika terbukti hanya mengakomodir kepentingan segelintir oknum, bukan rakyat Teluk Lanus, Rawa mekar jaya secara keseluruhan," tegas Indra.Indra menambahkan bahwa Teluk Lanus, Rawa mekar jaya Sei Apit merupakan wilayah atau dapilnya. Karena itu, ia siap mendampingi masyarakat sampai hak rakyat benar-benar terpenuhi.Seluruh ijin PBPH di wilayah Kabupaten Siak idealnya diajukan koperasi dengan melibatkan Bumdes atau Bumkam, sehingga ada bagi hasil yang jelas dan transparan untuk masyarakat tiga desa dalam jangka waktu panjang."Kita tidak ingin terjadi kerusakan lingkungan di Siak, karena sekarang saja Harimau sudah masuk ke Kota Siak karna kawasan hutan sudah rusak. Kami juga menolak penguasaan sepihak untuk mendapatkan izin PBPH. Sudah bukan saatnya lagi rakyat dibodoh-bodohi," katanya tegas.

131 Hektar Hutan dan Lahan Terbakar di Riau
Indragiri Hilir

131 Hektar Hutan dan Lahan Terbakar di Riau

Pekanbaru, Petah.id - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terjadi di sejumlah wilayah di Provinsi Riau. Titik api tersebut berhasil dipadamkan oleh petugas. Dari data BPBD Riau, luas lahan yang terbakar sejak januari 2023 mencapai 131,44 hektar dan tersebar diberbagai kabupaten kota. Di Kabupaten Bengkalis kebakaran hutan dan lahan hingga saat ini mencapai 79,87 hektar. Kabupaten Rohil 5,5 hektar, Dumai 19,27 hektar, Meranti 2,5 hektar dan Siak 9,95 hektar, Pekanbaru sudah terjadi 7,2 hektar, Kampar 1 hektar, Indragiri Hulu 0,65 hektar dan Kabupaten Inhil seluas 5,5 hektar.Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, M Edy Afrizal menyampaikan jumlah luasan tersebut dapat dipadamkan dan dikendalikan oleh petugas. "Riau kondusif, sudah nihil Karhutla. Mudah-mudahan ini bisa kita pertahankan," kata Kepala BPBD Riau, M Edy Afrizal, Jumat (31/3/2023). Dikatakan M Edy, tiga kabupaten kota di Riau hingga saat ini masih nihil dari peristiwa kebakaran hutan dan lahan. "Ada tiga daerah yang masih nihilkarhutla, yakni Kuansing, Rohul dan Pelalawan," kata Edy. Pihaknya mengimbau masyarakat supaya tidak membuka lahan dengan cara membakar. Langkah ini menjadi poin paling utama dalam rangka menekan angka kasus Karhutla di Riau dengan melibatkan banyak sektor.“Bukan cuma dari BPBD, TNI-Polri juga ikut serta. Di daerah itu kan sudah ada Bhabinkamtibmas dan Babinsa, mereka juga dilibatkan dalam sosialisasi,” sebutnya. Dia menambahkan, upaya pencegahan harus terus dilakukan sekaligus menjadi sinyal untuk mendeteksi dini potensi-potensi terjadinya Karhutla. Selain itu, ujar dia, kegiatan patroli akan terus dilakukan oleh tim-tim di daerah. Kegiatan sosialisasi juga bisa disisipkan di tengah kegiatan seperti itu.“Kita akan terus mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Hal ini menjadi kunci utama untuk menekan angka kasus Karhutla di Riau saat ini. Kita juga tidak mau capaian-capain kita saat ini menjadi sia-sia jika masyarakat tidak diingatkan,” tutupnya. 

Elegi Dibalik Keindahan Danau PLTA Koto Panjang
Perjalanan

Elegi Dibalik Keindahan Danau PLTA Koto Panjang

Keindahan dibalik kesedihan atau kesedihan dibalik keindahan. Sulit menjawab kalimat mana yang lebih tepat untuk menggambarkan panorama alam Danau Koto PanjangKampar, Petah.id - Bukan tanpa alasan kalimat itu menyeruak dalam benak saya. Sebelum tahun 1991, kawasan perairan dengan deretan pulau-pulau kecil ini merupakan perkampungan masyarakat. Pembangunan PLTA Koto Panjang-lah yang mengubah kondisi bentang alamnya hingga menjadi seperti sekarang. Demi menghasilkan pasokan daya 114 Megawatt (MW), digagas ide pembangunan bendungan dengan membentengi aliran Sungai Kampar di Rantau Berangin. Project finding dilakukan perusahaan konsultan asal Jepang, Tokyo Electric Power Service Co. Ltd (TEPSCO). Pembangunan fisik proyek mulai dilaksanakan sejak tahun 1991. Berjalan lebih kurang 5 tahun, bendungan PLTA Kota Panjang akhirnya selesai pada Maret 1996. Beroperasinya bendungan secara otomatis membentuk danau seluas 12.400 Ha. Lokasinya tepat berada di wilayah tapal batas antara Provinsi Riau dan Sumatera Barat. Secara administratif terdiri dari dua wilayah kewenangan. Kecamatan XIII Koto Kampar Provinsi Riau dan Kecamatan 50 Koto Provinsi Sumatra Barat. Walhi Riau dalam laporan berjudul Menyoal Ecocide Di Provinsi Riau (2019), mencatat 10 Desa dengan total 3.638 kepala keluarga ketika itu harus direlokasi. Langkah yang tentu saja menimbulkan pro dan kontra. Disatu sisi. Dalih krisis energi dan kebutuhan atas pasokan listrik menyebabkan urgensi pembangunan PLTA tak bisa ditawar. Tapi disisi lain, pembangunan ini juga berpotensi menghilangkan habitat bagi banyak satwa yang sebelumnya bermukim di lokasi. Gajah dan Harimau Sumatera diantaranya. Belum lagi menyoal perubahan bentang alam yang berpotensi melahirkan bencana ekologis, seperti banjir.Dari dokumen riset Dampak Pembangunan PLTA Kotopanjang Terhadap Keberadaan Populasi Gajah di Wilayah Genangan dan Kesehatan Masyarakat (2010), diketahui bahwa peminjaman dana pembangunan dari Jepang diberikan dengan tiga syarat. Pertama, Gajah yang bermukim di lokasi harus diselamatkan dengan memindahkannya ke tempat perlindungan yang cocok. Kedua, tingkat kehidupan KK yang kena dampak dari proyek Koto Panjang harus sama atau lebih baik dari kehidupannya di tempat lama. Sedangkan syarat ketiga, persetujuan pemindahan bagi yang terkena dampak proyek prosesnya harus dilakukan dengan adil dan merata. Pemerintah Indonesia pun menyetujui dan menyerahkan laporan akhir yang berisikan syarat tersebut pada tahun 1992. Meskipun di sisi lain, sebagaian masyarakat masih melakukan protes keras yang ditandai dengan kedatangan lima orang utusan warga Koto Kampar ke Jakarta untuk menyuarakan tuntutan mereka akan rendahnya harga ganti rugi.Potensi PariwisataLebih dua dekade cerita itu sudah berlalu. Hamparan gugusan pulau yang terletak di tengah bendungan PLTA Kota Panjang kini berubah menjadi destinasi wisata andalan Kabupaten Kampar. Penduduk sekitar mulai mengubah puncak-pucak bukit menjadi spot foto dan tempat peristirahatan.Pasar pengunjung potensial berasal dari Provinsi Riau, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Khususnya dari pengguna jalan yang melintasi jalur Sumatera Barat – Riau via Koto Panjang.  Tingginya mobilitas masyarakat yang melintas menciptakan peluang besar bagi daerah ini untuk dikembangkan sebagai kawasan resting area. Salah satu spot paling populer adalah Puncak Ulu Kasok yang kerap dijuluki sebagai Raja Ampat-nya Riau. Lokasi ini mulai ramai sejak viral di tahun 2017. Menyajikan Panorama alam indah dengan deretan pulau-pulau kecil yang menyembul diantara perairan. Dari jauh terlihat Gugusan perbukitan Bukit Barisan yang menjadi sumber mata air. Danaunya yang bewarna kehijauan seakan-akan menarik pengunjung untuk berpetualang mengarunginyaRizal, salah seorang pedagang yang mangkal di kawasan itu menjelaskan bahwa Ulu Kasok biasanya ramai saat akhir pekan. Pengunjung silih berganti berdatangan untuk sekedar berfoto dan menikmati pemandangan. Namun jika hari biasa (hari kerja), pengunjung tidak begitu banyak. “Kalo hari sabtu, minggu atau hari libur ya lumayan pendapatan bang,” kata Rizal.Tak jauh dari Ulu Kasok, terdapat juga spot wisata bernama Puncak Kompe. Menawarkan sajian alam serupa. Hanya titik memandangnya yang sedikit berbeda. Destinasi ini dikelola oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Pendapatan yang berasal dari tiket masuk pengunjung mereka kelola secara mandiri. Demikian dijelaskan Eko, salah seorang pengelola Puncak Kompe. Menurut Eko, jumlah pengunjung setiap akhir pekan bisa mencapai 200-an orang. Dengan tiket masuk sebesar 15 ribu per-orang, angka ini tentu sangat membantu prekonomian para pengelola objek wisata yang merupakan warga desa sekitar. Sebagai pengelola, Eko berharap pemerintah bersedia membantu mereka untuk mengembangkan objek wisata Puncak Kompe. Mengingat pemandangan di tempat ini menurutnya sangat menjanjikan. Namun pengalaman dan jam terbang masyarakat dalam mengelolanya sebagai sebuah industri masih cukup minim. “Kalau bisa dikembangkan lah tempat ini, biar bisa kayak tempat-tempat wisata lain diluar sana,”  harap Eko. Pentingnya Menjaga EkosistemBerkembangnya industri pariwisata terkadang malah melahirkan sejumlah ancaman terkait kelestarian kawasan. Pembangunan sarana penunjang seperti perumahan, warung-warung terapung hingga keramba budidaya ikan saat ini bertumbuh pesat. Padahal, di sisi lain daerah sekitar bendungan merupakan buffer zone yang idealnya harus terjaga.Kondisi DAS Kampar dan daerah tangkapan air PLTA Koto Panjang wajib mendapatkan perhatian serius. Sebagaimana penjelasan Makruf Maryadi Siregar kepada Mongabay (2015) silam, luasan hutan tinggal 886,1 kilomter persegi dari sebelumnya 3.331 Kilometer Persegi. Dengan demikian, merestorasi hutan di sekitar Danau adalah opsi yang tak bisa ditawar. Aras Mulyadi, dalam jurnal Industri dan Perkotaan Volume VIII (2003) secara tegas menyampaikan pentingnya menjaga ekosistem di kawasan Danau PLTA Kota Panjang. Kelestarian waduk PLTA Koto Panjang sangat dipengaruhi oleh permasalahan lingkungan yang ada di sekitarnya. Degradasi daerah tangkapan air akan memicu laju erosi dan sedimentasi yang masuk ke dalam waduk. Jika kondisi ini berlanjut terus maka hanya akan memperpendek umur waduk, yang pada gilirannya akan mengganggu pasokan listrik.Masih dalam jurnal tersebut, Aras menjelaskan setidaknya ada empat cara yang dapat ditempuh dalam rangka meminimalisir degradasi daerah tangkapan, laju erosi dan sedimentasi. Pertama, pengembangan tata ruang terpadu, baik yang untuk mengatur pemanfaatan daerah perairan dan pemanfaatan daerah daratan. Kedua, pengelolaan terpadu dengan pelibatan masyarakat tempatan. Ketiga, penerapan konsep satu manejemen pengelolaan lingkungan (one plan one mangement). Keempat, ciptaan lapangan ekonomi bagi masyarakat sehingga pemanfaatan Danau PLTA Koto Panjang dan daerah bagian atasnya dapat dikendalikan. Memang teori tidak semudah implementasi. Namun, mau tidak mau, suka tidak suka hal tersebut harus segera dilaksanakan. Semata-mata demi menjaga fungsi ekologis, sosial, dan ekonomi yang saling terkait di kawasan ini. 

Verifikasi Teknis Usulan Perhutanan Sosial di Kampung Dosan
Lingkungan

Verifikasi Teknis Usulan Perhutanan Sosial di Kampung Dosan

Siak, Petah.id - Perjuangan masyarakat Kampung Dosan, Kecamatan Pusako, Kabupaten Siak, Riau dalam mempertahankan ruang kelolanya memasuki babak baru.Pada 7 - 8 Februari 2023, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama KPH dan Pokja Percepatan Perhutanan Sosial (Pokja PPS) melakukan verifikasi teknis usulan perhutanan sosial warga Dosan. Konflik tenurial selama 20 tahun lebih yang melibatkan masyarakat dan perusahaan PT Arara Abadi  akhirnya dapat diselesaikan. Verifikasi teknis merupakan satu langkah maju agar masyarakat mendapatkan pengakuan hak pengelolaan lahan mereka yang berada dalam konsesi Arara Abadi.Verifikasi teknis (Vertek) ini dilakukan untuk mengetahui secara langsung serta mensinkronkan kondisi lapangan terkait subjek pemohon dan juga objek areal kawasan hutan yang dimohon. Di hari pertama, masyarakat penerima manfaat hadir dalam kegiatan vertek ini untuk diverifikasi terkait keabsahan data kependudukan dan domisili.Hal ini dilakukan agar penerima manfaat adalah benar-benar masyarakat tempatan yang telah mengelola lahan tersebut lebih dari lima tahun. Dalam kegiatan vertek hari pertama ini masyarakat menyambut tim vertek dengan baik. Antusiasme masyarakat terlihat dari ramainya yang hadir pada kegiatan tersebut.Hadir dalam vertek Kepala Desa (Penghulu) Kampung Dosan, Zamri. Zamri menyambut baik vertek yang dilakukan oleh kementerian LHK dan tim. Masyarakat berharap pasca vertek ini, usulan perhutanan sosial yang diajukan dapat disetujui oleh kementerian sehingga mereka dapat mengelola lahan dengan tenang."Masyarakat kami telah lama berkonflik dengan PT Arara Abadi ini, kami berharap dengan dikeluarkannya SK Perhutanan Sosial oleh kementerian dapat menjadi pegangan bagi masyarakat dalam berkebun sesuai dengan peraturan yang ada,” kata Zamri.Perkumpulan Elang sebagai pendamping masyarakat dalam pengusulan perhutanan sosial ini juga hadir pada kegiatan vertek. Tim Perkumpulan Elang memastikan proses vertek yang dilakukan berjalan dengan adil dan tidak merugikan masyarakat. Janes Sinaga, Direktur Perkumpulan Elang turut mengapresiasi kementerian LHK yang telah merespon positif usulan masyarakat Dosan. Janes mengatakan bahwa ini merupakan langkah baik dalam mengakomodir ruang kelola rakyat serta sebagai solusi persoalan konflik yang terjadi di Siak maupun di Riau pada umunya. Jika usulan ini disetujui maka ini merupakan usulan kemitraan pertama kali yang ditandatangani oleh kementerian LHK di wilayah konsesi perusahaan HTI di Indonesia.“Pendekatan perhutanan sosial sebagai solusi dalam penyelesaian konflik tenurial antara perusahaan dan masyarakat adalah satu langkah maju keberpihakan pemerintah kepada rakyat," ungkap Janes. Pendekatan reaktif yang dilakukan selama ini cenderung merugikan masyarakat dengan cara-cara kekerasan dan kriminalisasi. "Apa yang terjadi di Dosan dapat dijadikan sebagai contoh penyelesaian konflik yang lebih humanis di desa-desa lain yang berkonflik,” ujar Janes.Setelah proses verifikasi teknis subjek dan objek selesai, tim verifikasi teknis selanjutnya melakukan penyusunan Berita Acara Verifikasi Teknis (BAVT). Dokumen ini harus disusun selengkap mungkin sehingga dapat memotret kondisi subyek dan obyek secara komprehensif. Ini akan menjadi bahan pertimbangan kementerian dalam mengambil keputusan untuk menerbitkan/tidak menerbitkan persetujuan kemitraan kehutanan.“Tantangan berikutnya yang akan dihadapi adalah bagaimana perhutanan sosial kemitraan ini mampu menjawab dalam peningkatan ekonomi masyarakat dan perbaikan lingkungan. Hal ini tentu saja tidak dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat, para pihak harus berkontribusi dan membantu dalam pencapaian hal tersebut, terutama PT Arara Abadi sebagai mitra yang menandatangani NKK bersama masyarakat juga turut bertanggung jawab,” tutup Janes. 

Harimau Mangsa Dua Ekor Sapi, Tim Pasang Box Trap
Lingkungan

Harimau Mangsa Dua Ekor Sapi, Tim Pasang Box Trap

Siak, Petah.id - Dua ekor sapi milik warga di Kampung Lubuk Dalam, Kecamatan Lubuk Dalam, Siak ditemukan tewas dengan kondisi badan tidak utuh.Diduga, tewasnya hewan peliharaan warga itu karena di mangsa seekor harimau. Sebab, di lokasi ditemukan jejak yang diduga merupakan jejak harimau.Disampaikan Kepala BPBD Siak Kaharudin , saat ini pihaknya bersama tim dari kepolisian, TNI, Satpol PP dan BBKSDA Riau sudah memasang box trap di lokasi ditemukanna sapi tewas."Tim bersama BBKSDA sudah turun ke lokasi memasang box trap dan kamera trap untuk perangkap harimau itu," ungkap Kepala BPBD Siak, Kaharudin, Selasa (7/2/2023).Untuk memancing harimau itu masuk ke dalam box trap, sapi yang sudah tewas dijadikan umpan.Hal itu dilakukan, tambah Kaharudin, karena kebiasaan harimau yang suka menyimpan sisa makanannya dan kembali lagi untuk mengambil sisa makanan tersebut."Sapi bekas gigitan itu kita jadikan umpan di dalam box trap. hal itu untuk memancing harimau tersebut kembali untuk mengambil sisa makanannya," sebut Kahar. Kahar mengimbau agar masyarakat jangan panik atas peristiwa itu. ia pun mengajak warga agar mengurangi aktifitas di maam hari di wilayah tersebut."Sementara waktu kurangilah aktifitas malam hari yang berada di lokasi tersebut. Baik itu kegiatan memancing atau lainnya.  Dan jangan panik, tim terus bekerja agar peraoalan ini bisa teratasi," sebut Kahar.Sebelumnya,  Kemunculan harimau beberapa waktu terakhir terus bikin warga di Kabupaten Siak resah.Terbaru, seekor sapi milik warga di Kampung Lubuk Dalam, Kecamatan Lubuk Dalam, Siak tewas diduga dimangsa seekor harimau.Sontak peristiwa tersebut bikin warga di Siak semakin geger pasalnya beberapa waktu lalu kemunculan harimau juga tampak di Kota Siak dan Kecamatan Mempura.Dari informasi yang berhasil dihimpun, seekor sapi milik warga itu ditemukan dengan kondisi yang sudah tidak utuh pada Senin (6/2/2023) sekira pukul 11.00 Wib.Biasanya, sapi tersebut memang dilepasliarkan di kebun kelapa sawit milik salah satu perusahaan."Benar. Hewan ternak warga ditemukan tidak utuh di Inti 7 PTPN V Lubuk Dalam. Diduga karena dimangsa Harimau," ungkap Kapolsek Lubuk Dalam, AKP JTP Silaban.Disampaikan JTP Silaban, peristiwa itu terjadi berkat laporan dari masyarakat soal penemuan tapak harimau di kebun sawit.Mendapati informasi tersebut, polisi bergeral cepat ke lokasi untuk menelusuri jejak harimau itu. alhasil ditemukan dua ekor sapi dalam kondisi tidak utuh."Saat kita telusuri, terlihat bangkai seekor sapi yang diduga dimangsa Harimau. Saat ini kita masih di lokasi melakukan pengecekan," ucapnya.Terpisah, Humas BBKSDA Riau, Dian Indriati menyampaikan belum mendapat laporan terkait hal tersebut."Kita belum dapat laporan adanya dugaan Harimau memangsa hewan ternak di Lubuk Dalam Siak. Saya akan teruskan ke pemangku wilayah soal ini," singkatnya.

Desa Buluh Cina dan Secercah Harapan Pelestarian Lingkungan
Perjalanan

Desa Buluh Cina dan Secercah Harapan Pelestarian Lingkungan

Bergantung hidup dari sungai dan hutan. Begitu sekilas gambaran kehidupan masyarakat Desa Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau Kampar, Petah.id - Suara kapal berderu membelah sungai. Beberapa penumpang tampak santai, duduk di atas sepeda motor yang ikut mereka seberangkan. Kapal motor yang oleh masyarakat setempat disebut ‘pompong’ ini melaju menuju dermaga yang berada persis diseberangnya. Jaraknya tidak jauh. Kurang lebih berkisar 100 meter. Dengan tarif pulang pergi Rp5.000-, ‘pompong’ merupakan transportasi utama bagi warga Dusun I dan Dusun II Desa Buluh Cina.  “Kalau naik ini (pompong) ya tiap hari lah bang,” ujar Ali pada saya. Ali merupakan warga Dusun I Desa Buluh Cina. Ia mengatakan, kalau akses paling cepat menuju kota (Pekanbaru) adalah dengan menggunakan ‘pompong’. Selain itu, ‘pompong’ juga beroperasi setiap hari, mulai dari pagi hingga malam sekira  pukul 23.00 Wib. Wajar bila ‘pompong’ menjadi transportasi utama masyarakat Buluh Cina. Sebab, secara geografis, bentang alam desa mereka dipisahkan oleh Sungai Kampar. Membagi antara wilayah dusun I dan II dengan dusun III dan IV. Bermukim persis di tepian sungai membuat kehidupan masyarakat sangat bergantung dari pemanfaatan sungai. Selain sebagai sarana transportasi, sungai merupakan sumber mata pencaharian dalam menopang prekonomian. Hal ini terlihat dari banyaknya keramba budidaya ikan yang berjejer di sepanjang tepian sungai. Begitupun untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, cuci dan kakus. Buluh Cina bahkan sempat mendapat sorotan nasional ketika secara rutin menggelar event olahraga tradisional pacu sampan. Memanfaatkan aliran Sungai Kampar sebagai arena, olahraga tradisional ini menjadi hiburan favorit masyarakat. Gelaran lomba biasanya dilangsungkan setiap tahun. Tapi sayang, sejak tahun 2007 acara ini tidak lagi digelar secara rutin.Hutan Adat Menjadi Taman Wisata Alam (TWA)  Cerita Desa Buluh Cina rupanya bukan hanya tentang pemanfaatan sungai. Desa berpenghuni 1.600-an jiwa ini juga dianugerahi kekayaan alam berupa hutan yang mereka sebut ‘Rimbo Tuju’. Ekosistemnya didominasi hutan dataran rendah dan rawa air tawar.  Selain potensi flora dan fauna, Rimbo Tuju menyimpan keindahan berupa pemandangan alam tujuh buah danau. Di dalamnya, hidup berjenis-jenis ikan dengan nilai ekonomi tinggi seperti ikan selais, baung, patin yang dimanfaatkan sebagai pendapatan tambahan masyarakat. Foto : Hutan Adat Rimbo Tuju/ Dokumentasi : MultazamHutan yang berada di atas tanah ulayat masyarakat Buluh Cina ini punya arti yang begitu besar. Lembaga adat, pemerintah desa dan masyarakat secara turun temurun berupaya menjaga kelestariannya melalui sejumlah aturan adat. Nilai, norma, hukum dan pengetahuan diwariskan dari generasi ke generasi. Desa Buluh Cina merupakan Desa Adat yang memiliki 2 suku asli. Suku Melayu dan Suku Domo. Masing-masing suku memiliki Ninik Mamak dan gelar yang berbeda-beda sebagai pemangku adat. Suku Melayu merupakan Penghulu adat dari Pucuk Suku Melayu dan Pucuk Suku Domo. Bentuk kearifan lokal untuk menjaga lingkungan terlihat dari peran Pucuk Adat Ninik Mamak dan Kepala Desa dalam memberikan sanksi kepada siapa saja yang melakukan perusakan hutan. Sebagaimana disampaikan oleh salah seorang pemangku adat, DT Ammirudin AG. “Ninik mamak memberi hukuman pada pelaku, mulai bentuknya peringatan, sampai sanksi membersihkan pekarangan desa, membersihkan pemakaman dan hukuman lainnya,” ujarnya. Selain itu, terdapat larangan menangkap ikan dengan cara memutas/meracun menggunakan bahan kimia. Adapun alat tangkap tradisional yang dipergunakan adalah ‘bolek’ yang terbuat dari bambu dan rotan. Saat ini, areal Rimbo Tuju sudah berstatus Taman Wisata Alam (TWA). Berdasarkan UU 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Taman Wisata Alam adalah kawasan pelestarian alam yang utamanya dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. Berubahnya Hutan Adat menjadi TWA diawali dari kesepakatan bersama Masyarakat Desa Buluh Cina untuk menghibahkan hutan mereka kepada pemerintah yang ditandai dengan keluarnya Keputusan Gubernur Riau No 468/IX/2006 tanggal 6 September 2006. Lalu, berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan Nomor 3587/MenhutVII/KUH/2014 tanggal 2 Mei 2014, kawasan ini resmi menjadi TWA dengan luas 963.33 hektar. Peralihan status dari hutan adat menjadi TWA menyebabkan terjadinya perubahan fungsi kawasan. Dari hak ulayat menjadi kawasan konservasi. Demikian juga soal kewenangan, dari hutan adat yang dulunya di kelola bersama oleh lembaga adat, masyarakat dan pemerintah desa, saat ini menjadi kewenangan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau. Menurut masyarakat, menghibahkan tanah ulayat menjadi kawasan konservasi merupakan salah satu cara menyelamatan kawasan hutan mereka dari maraknya para pembalak liar dan kepungan industri perkebunan sawit yang semakin merajalela. Sebagai Desa Wisata Pasca penetapan TWA, Desa Buluh Cina sejak beberapa tahun belakangan terus berupaya mengemas identitasnya menjadi desa wisata. Konsep Eko-edu wisata dipilih sebagai branding ke calon pengunjung. Secara potensi, hal itu harusnya dapat terwujud dengan mudah. Selain hutan dengan alam yang indah untuk tracking dan camping, Buluh Cina juga bisa menjadi pilihan untuk memancing dan menjala ikan. Berpadu dengan budaya dan kearifan lokal, rasanya unsur ekologi dan edukasi semakin terpenuhi. Hanya saja, mengubah pola pikir masyarakat untuk menjadi desa sadar wisata jelas bukan perkara mudah. Selain perlu penanaman kesadaran ketengah-tengah masyarakat secara komprhensif, dukungan sarana dan prasarana dari pemerintah juga menjadi kunci utama. Syahrial, salah seorang warga Desa Buluh Cina menyoroti hal serupa. Menurutnya penting dukungan dari pemerintah untuk merenovasi rumah-rumah panggung yang ada di desanya. Membuat program-program pendidikan wisata hingga mengembangkan usaha-usaha rumahan yang dapat meningkatkan prekonomian warga. “Dengan begitu, geliat sebagai desa wisata pasti langsung terasa ke pengunjung,” tegasnya. Di sisi lain, Syahrial berharap berubahnya Buluh Cina menjadi desa wisata tidak berakibat pada rusaknya tatanan nilai dan budaya asli masyarakat. Apalagi hingga merusak sungai dan hutan adat mereka.  “Ramai pun pengunjung datang tiap hari kalau ujung-ujungnya merusak alam ya untuk apa,” tutup Syahrial.

Jepang Masuk ke Siak Sri Indrapura
Infografik

Jepang Masuk ke Siak Sri Indrapura

SIAK, Petah.id - Pada tahun 1942, Perang Dunia kedua sudah memasuki wilayah Asia. Jepang sudah menduduki Thailand, Malaysia dan Singapura, di Sumatera sudah masuk di Medan, Padang dan Pekanbaru.Beberapa bulan berlalu O.K. Muhamad Djamil Bersama masyarakat di siak sudah menunggu kedatangan Jepang yang ingin melepaskan Indonesia dari penjajahan Belanda. Sampai bulan Maret 1942, belum ada berita Jepang akan masuk ke Siak.Pembersar-pembesar Belanda seperti residen, asisten residen dan pembesar militer serta polisi dari hari ke hari dan setiap hari mereka berkeliling Istana Sultan Siak minta perlindungan.Residen Riau yang terakhir adalah Buisbavink, Asisten Residen di Bengkalis adalah Mr. Verhoof dan kontroler di Siak adalah Van Der Vlucth. Pernah residen Belanda berkata kepada Sultan : “seandainya Jepang dating ke negeri Siak, kami akan berkumpul di Istana untuk mendapatkan perlindungan diri kami karena Sultanlah yang dapat menolong dan melindungi kami.O.K. Muhamad Djamil pada waktu itu sangat merasa galau, kalua-kalau Belanda sewaktu Jepang masuk ke Kota Siak Sri Indrapura mungkin akan terjadi sesuatu yang sangat dahsyat di Istana. O.K. Muhamad Djamil Bersama pemuda-pemuda yang bertanggung jawab atas keselamatan Sultan, setiap hari berunding dan bertukar fikiran. O.K. Muhamad Djamil dengan kawan-kawan, Datuk Sulaiman Jakja Kerajaan, Tengku Joened, Tengku Nasir abang ipar Sultan, Tengku Mansyur Khalid Kepala Keamanan, Tengku Sa’ad Kepala Askar diraja Istana, dan Tengku Makmun al-Rasyid Sekretaris Sultan, membicarakan kebimbangan di hati kami masing-masing tentang peristiwa yang mungkin akan terjadi di Istana. Kami mempersiapkan pemuda-pemuda untuk mengawal Sultan dan keluarga dari peristiwa yang akan terjadi dari Belanda atau dari Jepang.Pada bulan April 1942, kebetulan hari Maulud Nabi Besar Muhammad SAW, Sultan tengah berada di Masjid Sultan Syahabuddin, menghadiri acara peringatan kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW. O.K. Muhamad Djamil mendengar bunyi kapal Boat dari arah pekanbaru. Beliau ambil kereta angin, terus pergi ke jembatan (Pelabuhan) Istana, di pinggir sungai siak. Kelihatan kapal sebesi dengan memakai bendera Jepang.Kapal angin di pacu karena ingin menghadap Sultan di Masjid, melaporkan bahwa jepang sudah masuk ke Siak dan terus ke Kampung Benteng. Kata Sultan “ engkau tenang dan jalankan perintah aku ini. Naikkan bendera putih di Istana, sambut dengan baik dan sapan santun sesuai dengan adat kita. Suruh masuk ke istana dan di beri minuman apa yang ada dan perintahkan serta kumpulkan perempuan-perempuan Melayu dan orang-orang perempuan Cina yang ada di pasar untuk masuk ke dalam Istana.”Perintah Sultan ini beliau teruskan kepada kawan-kawan dan pemuda-pemuda yang sudah siap di Istana untuk dilaksanakan, karena mereka sudah berkumpul di Istana. Setelah perintah sultan dilaksanakan oleh kawan-kawan dan pemuda-pemuda Siak, beliau Bersama kawan lain mengambil kereta angin kami masing-masing pergi memperhatikan apa yang dilakukan oleh Tentara Jepang kepada orang Belanda di Kampung Benteng, di rumah dan di kantor Kontroleur, serta di Tangsi Militer Belanda.Tentara Jepang membesit (mengepung) rumah, kantor dan Tangsi Militer Belanda dan tidak terjadi pertumpahan darah. Tentara Belanda yang hitam (yaitu orang Indonesia yang bekerja sebagai militer bayaran dan mereka bersuku jawa dan ambon), sudah meninggalkan Tangsi Militer Belanda beberapa minggu yang lalu. Yang tinggal adalah orang-orang Belanda saja dan mereka menyerah kepada Tentara Jepang yang datang ke Siak. Semua peristiwa ini beliau laporkan kepada Sultan.Pada acara Maulud Nabi, Datuk Wan Entol Districstshoofd Siak tidak mengikuti acara Maulud Nabi Bersama Sultan di Masjid. O.K. Muhamad Djamil disuruh Sultan dengan memakai mobil Sultan untuk menjemput Datuk Entol mendampingi Sultan berhadapan dengan Jepang, tetapi Datuk Wan Entol tidak dapat datang karena sakit demam parah. O.K. Muhamad Djamil sangat kesal, bahwa pada hari itu adalah hari untuk mengatur pemerintahan di Kerajaan Siak dan kedudukan Sultan Siak yang dalam keadaan perang ini.Tidak beberapa lama, datang seorang Inspektur Polisi Belanda (Indo) yang diperintahkan oleh komandan Jepang, meminta Sultan datang ke Kantor Kontroleur. Sultan masih berada di Masjid melaksanakan Maulud Nabi Besar Muhammad SAW dan Sultan langsung berkata : “ tolong sampaikan kepada pembesar Jepang itu, bahwa Sultan berada di Istana. Kalua memerlukan Sultan, silahkan pembesar Jepang datang ke Istana. Karena, Sultan bukan pegawai belanda dan silahkan menunggu.”Kapten Jepang memberitahu kepada orang Belanda yang sudah dilucuti, jangan bikin rebut-ribut; diam saja di rumah kontroleur dan jangan kemana-mana. Apabila bikin rebut akan di potong kepala mereka.Kapal Belanda yang ada di Siak bernama Wihelmina. Sri Sultan mengambil kapal itu untuk dipakai Sultan untuk keperluan Kerajaan Siak yang luas wilayahnya. Kapal itu diserahkan oleh Kapten Kapal Wihelmina kepada Sultan, kemudian diganti Namanya menjadi Nurhasyim.O.K. Muhamad Djamil merasa sangat puas bahwa orang Belanda yang dulunya sangat garang kepada pribum sekarang menjadi tikus ketakutan kepada kucing, mereka berkumpul di bawah tiang bendera di Istana Sultan Siak yang di geret oleh tentara Jepang. Dari kampung Benteng, mereka dibawa dengan kapal Nurhasyim ke Pelabuhan Istana.Pembesar Jepang dijemput di Pelabuhan Istana oleh O.K. Muhamad Djamil dan beberapa orang besar Kerajaan Siak, kemudian dibawa ke Istana Sultan dan dipersilahkan duduk di ruang Gading dan di ruang siding Kerajaan. Penghulu Istana mempersiapkan minuman dan hidangan untuk para tamu Jepang tersebut.Orang-orang Belanda yang telah di tawan dikumpulkan di bawah tiang bendera Istana yang dahulunya setiap hari bendera berkibar di situ. Bendera belanda yang ada di tiang bendera Istana itu diperintahkan oleh Kapten Jepang, supaya di turunkan. Bendera Kerajaan Siak berwarna kuning naga bertangkup yang ada di atas puncak Istana tetap berkibar disana.Di halaman Istana di bawah pohon manggis dan jambu, siap berjaga-jaga serdadu Jepon dengan senjata lengkap memakai bayonet di ujung senapan. Mereka cukup banyak mengawal Belanda-Belanda yang telah di tawan itu.O.K. Muhamad Djamil pergi melaporkan kepada Sultan yang masih berada di masjid, menyampaikan bahwa pembesar Jepang dan militernya sudah berada di Istana. Demikian juga pembesar Belanda di bawa ke Istana dan di suruh berdiri di bawah tiang bendera, tidak dibolehkan masuk ke dalam Istana.Kata Sultan kepada O.K. Muhamad Djamil : “ sabra orang kaya, kita mau sholat sunat dua rakaat dulu, minta perlindungan kepada Allah Yang Maha Kuasa”. Beliau pun gelisah, tetapi Sri Sultan sangat tenang, sedikitpun tidak merasa gentar, mungkin baginda sudah paham keadaan perang ini.Kemudian Sri Sultan dengan rombongan orang-orang besar kerajaan dan ulama-ulama Islam, Imam Masjid Syahabuddin dan Kadhi kerjaaan ikut Kembali ke Istana. Para pembesar Jepang sudah menanti. Sultan di sambut dengan hormat Jepang dimana kepala ditundukkan sambal bersalam-salaman.Sebagai juru cakap (tolok) adalah A. Makai dan ketua rombongan Jepang ialah seorang kapten Jepang dengan berpakaian lengkap, dipinggangnya terjuntai pedang samurai Jepang yang terkenal itu.Kapten Jepang berkata bahwa mereka dating ke Sultan Siak dengan damai dan bersahabat dengan Negeri Siak. Dia menyampaikan hal-hal sebagai berikut :- Pemerintahan Belanda tidak berkuasa lagi di negeri ini- Sekarang kita sama-sama bangsa Asia Raya dibawah pimpinan Jepang- Sultan supaya melaksanakan terus pemerintahan dengan baik untuk rakyatnya- Bendera Belanda diturunkan dan bendera Jepang dinaikkan di tiang bendera halaman Istana dan Bendera Sultan tetap di atas IstanaSetelah selesai bercakap-cakap sambal tertawa, Kapten Jepang mohon izin Kembali ke Pekanbaru. Adapun tahanan orang-orang Belanda itu sementara di tahan di Tangsi Militer di Kampung Benteng.Kerja kami semakin meningkat karena situasi belum menentu, tentang pengaturan dan peralihan Pemerintahan Belanda dan Pemerintahan Jepang demikian pula pemerintahan Kerajaan Siak.Sekretaris Sultan belum ada, sudah lama diusulkan Tengku Makmun al-Rasyid untuk menjadi sekretaris Sultan pada Pemerintahan Belanda. Belanda tidak menanggapi, sengaja dihalangi karena Tengku Makmun al-Rasyid lepasan Pendidikan MULO dari Taman Siswa di Medan. MULO Taman Siswa adalah sekolah kebangsaan Indonesia yang siswanya di didik tentang nilai-nilai kebangsaan. Pusat Perguruan Taman Siswa berada di Yogyakarta dan di kota-kota lain di Indonesia.Kerja yang besart ini beliau hadapi dan Sultan memerintahkan kepada semua districshoofd supaya bekerja terus seperti biasa. Pegawai dan para pimpinan yang berada di district-district, langsung di pimpin oleh districtshoofd. Sedang pegawai-pegawai Asisten Residen Bengkalis diperintahkan pindah ke Siak dan pegawai kontroleur tetap di bawah districshoofd Siak.Di balai besar Kerapatan Tinggi dipenuhi pegawai dan di bagi-bagi tugas pekerjaan. O.K. Muhamad Djamil memegang peranan karena, ditugaskan sebagai Kepala Sekretariat Sultan. Semua gaji pegawai di atur oleh Sri Sultan. Biaya di ambil dari penghasilan setiap district di Kerajaan Siak.Sumber : Buku Siak Negeri Pengabdianku Biografi Orang Kaya Muhammad Djamil (Sekretaris Pribadi Sultan Syarif Kasim II)

Halaman

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: A non-numeric value encountered

Filename: pages/kategori-berita.php

Line Number: 51

Backtrace:

File: /home/u1605178/public_html/application/views/public/pages/kategori-berita.php
Line: 51
Function: _error_handler

File: /home/u1605178/public_html/application/views/public/public.php
Line: 159
Function: view

File: /home/u1605178/public_html/application/controllers/Main.php
Line: 242
Function: view

File: /home/u1605178/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

1 dari 4