Digelar Secara Serentak, SMP se-Kabupaten Siak Laksanakan Asesmen Nasional
Pendidikan

Digelar Secara Serentak, SMP se-Kabupaten Siak Laksanakan Asesmen Nasional

Siak, Petah.id - Sebanyak 3.966 pelajar tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) se Kabupaten Siak laksanakan Asesmen Nasional (AN).Ujian itu sudah dilaksanakan sejak Senin (4/10) sampai Kamis (7/10) secara serentak."Asesmen nasional adalah evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah untuk pemetaan mutu sistem pendidikan dengan menggunakan instrumen asesmen kompetensi minimum (AKM), survei karakter, dan survei lingkungan belajar,” jelas Kadis Pendidikan Lukman.Dikatakan Lukman, beberapa instrumen yang dimaksudkan adalah AKM adalah pengukuran kompetensi peserta didik dalam Literasi Membaca dan Literasi Matematika (Numerasi).Sementara survei karakter adalah pengukuran terhadap sikap, kebiasaan, nilai-nilai, berdasarkan enam aspek profil pelajar Pancasila.Lukman juga menjelaskan apa itu survei lingkungan belajar. Survei lingkungan belajar merupakan pengukuran kualitas pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran pada satuan pendidikan.“Dalam pelaksanaan AN, peserta didik mengikuti AKM, survei karakter, dan survei lingkungan belajar. Sedangkan guru dan kepala satuan pendidikan yang melaksanakan AN wajib mengikuti survei lingkungan belajar,” urai Lukman.Diterangkan Lukman, AN jenjang SMP sudah dimulai sejak Senin sampai Kamis (4-7/10) yang diikuti oleh 109 Satuan Pendidikan jenjang SMP se- Kabupaten Siak dengan jumlah peserta 3.966 peserta didik. Pelaksanaan AN di Satuan Pendidikan diwajibkan dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, wajib memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan, sesuai dengan ketentuan Pos AN dan SKB 4 Menteri.Sementara pelaksanaan AN selama 2 hari ini masih ada kendala, umumnya satuan pendidikan yang menggunakan moda online (daring), sebagian besar tidak berjalan lancar. “Bagi satuan pendidikan yg belum berhasil melaksanakan AN pada hari pertama dan kedua, oleh Kemendikbud diberikan kesempatan untuk melakukan AN ulang pada Rabu-Kamis (6-7/10) dan Senin-Kamis (11-14/10),” terang Lukman.Untuk jenjang SD, pelaksanaan AN dijadwalkan pada 8-18  November, diikuti oleh 251 SD, dengan jumlah peserta 6.557 peserta didik. Sedangkan untuk pendidikan kesetaraan diikuti oleh 8 PKBM, dengan jumlah peserta 255 peserta didik.Dijelaskan Lukman, pelaksanaan ANBK pada umumnya berjalan lancar dan baik pada pelaksanaan 2 hari ini, namun kendala yang terjadi bagi sekolah yang melaksanakan secara online terjadi gangguan pada jaringan dan sistem yang ada di Kemendikbudristek. Menurutnya bisa jadi dikarenakan ANBK dilaksanakan secara serentak seluruh Indonesia. Bagi Sekolah yang melaksanakan secara semionline tidak ada masalah.“Kepada sekolah yang melaksanakan secara online agar kembali mendata seluruh peserta yang mengalami kendala dan tidak bisa menyelesaikan AN sesuai jadwal awal,” ungkap Lukman.Lukman meminta agar melaporkan lansung kendala tersebut kepada Kemendikbudristek melalui sistem yang tersedia untuk bisa dijadwal ulang.

 Kadisdik Lukman : Pembiasaan Penerapan Prokes
Pendidikan

Kadisdik Lukman : Pembiasaan Penerapan Prokes

Siak, Petah.id - Sebanyak 80 persen sekolah di Siak melakukan PTM terbatas paska melandainya kasus Covid-19.Demikian dikatakan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Siak, Lukman. Disebutkannya, sekolah yang melaksanakan PTM terbatas itu sudah memenuhi daftar periksa standar prokes."Setiap sekolah harus melakukan penyempurnaan kelengkapan tentang standar prokes. Sekolah juga harus mengantongi rekomendasi dari satgas kecamatan dan bekerja sama dengan puskemas setiap kecamatan," kata Lukman.Sekolah yang melakukan PTM terbatas, gurunya pun harus sudah melakukan vaksin terlebih dahulu. Hal itu dilakukan karena tidak ingin adanya cluster baru.Di Kabupaten Siak sudah 81 persen guru yang sudah divaksin dari total 8918 total tenaga pengajar yang ada."Guru yang sudah di vaksin 81 persen lebih dari total  8918 total guru untuk tingkat TK, SD, SMP, MI, MTS. Artinya sebanyak 1470 orang yang belum vaksin," ungkap Lukman.Dari sisa yang belum divaksin tersebut, lanjut Lukman, diantaranya memang memiliki kondisi tubuh yang tidak memungkinkan untuk melakukan vaksin."Kondisi badan mereka memang tidak bisa divaksin  karena memang memiliki riwayat sepeti ada yang kena Gula, Komorbid dan sebagainya," lanjutnya.Saat ini, Disdikbud Siak terus melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan agar semua pihak bisa saling mengawasi dengan ketat demi keberlangsungan PTM terbatas.Untuk tahap awal, kata Lukman lebih jauh, proses belajar masih dalam rangka pembiasaan murid dan siswa tentang penekanan sosialisasi penegakan prokes."Masih masa transisi sehingga belum fokus pada inti pembelajaran. Macam manapun yang paling utama adalah kesehatan mereka," kata Dia.Setiap sekolah lebih mengedepankan tentang pshycososial dari peserta didik, tidak dianjurkan atau memaksa murid maupun siswa untuk memahami pembelajaran.Diakui Lukman, hal itu tentunya menjadi tugas yang berat bagi peserta didik agar bisa mengimbangi kebiasaan murid yang selama ini sudah dua tahun belajar dengan daring."Kalau dianalisa terdapat pengaruh terhadap anak murid dengan lama nya tidak melakukan sekolah tatap muka. Ada perbedaan kebiasaan setelah dilaksanakannya PTM yang sudah dua tahun hampir tidak sekolah tatap muka," ungkap Lukman.Dicontohkannya, persoalan sikap terjadi perbedaan kebiasaan karena lamanya sekolah daring.Kendati antusiasme untuk bersekolah tinggi namun untuk menyerap pembelajaran memang menurun. "Masih banyak kami temui murid ke sekolah tidak membawa buku. Makanya juga pemerintah mengantisipasi dengan beberapa kebijakan, istilahnya sistem terjadinya loss learning (kerugian belajar)," ujarnya.Yang terpenting, kata Lukman, saat ini pihaknya terus berupaya agar PTM terbatas ini bisa dilaksanakan secara terus hingga membentuk kembali kebiasaan siswa untuk belajar.Dengan itu, menekan terjadinya cluster baru di sekolah, pihaknya membentuk satgas di masing-masing sekolah untuk kerja keras mengawasi dan mengontrol serta melakukan sosialisasi termasuk dengan orang tua murid dan yang menjemput murid." Untuk orang tua murid jangan menjemput anak tidak memakai masker. Dan salah satu fungsi satgas mengingatkan itu secara berkelanjutan," tambahnya.Satgas dibentuk dari gabungan tenaga pengajar dan komite. Satgas hanya relawan tanpa di gaji.Dibentuknya satgas murni bagaimana penerapan prokes di sekolah berjalan dengan maksimal.Kata Lukman, ada kekhawatiran untuk murid ditingkat SMP karena mobilitas anak-anak diusia itu sangat tinggi."Tak jarang kami temui anak-anak setelah pulang sekolah masih nongkrong diluar tanpa prokes. Maka dari itu kami sangat mengimbau untuk orang tua murid untuk sama-sama mengawasi anaknya di rumah," pintanya.Dijelaskannya, jika hal terburuk terjadi adanya sekolah yang menjadi cluster, pihaknya akan menutup sekolah tersebut dengan skala tingkat kampung." Kita berharap hal itu tidak terjadi. Namun, jika kecolongan maka sekolah tersebut akan ditutup level kampung. Misalnya sekolah tersebut ada di Kampung  A, maka sekolah yang ada di Kampung A tersebut akan ditutup menghindari penyebaran lebih luas," beber Lukman.Akan tetapi, sampai hari ini belum ada informasi soal cluster di sekolah yang ada di Siak.Disdikbud terus melakukan monitoring ke sekolah-sekolah diberbagai kecamatan. Dan soal adanya klaster baru belum ada."Kemarin kami monitoring di Kecamatan Minas, Tualang , Siak dan Mempura belum ada terjadi, dan penerapan prokes di sekolah tersebut memanglah ketat," tutupnya.

Pemkab Siak Perketat Pengawasan PTM Terbatas Cegah Cluster Baru
Pendidikan

Pemkab Siak Perketat Pengawasan PTM Terbatas Cegah Cluster Baru

Siak, Petah.id – Pemkab Siak dan Satgas Penanggulangan Covid-19 terus memperketat pengawasan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas agar tidak menjadi cluster baru. Hal itu dilakukan guna mencegah kekhawatiran dan keresahan para pelajar dan murid.   Juru Bicara Satgas Penanggulangan Covid-19, Budhi Yuwono yang juga Asisten I Setkab Siak mengatakan sampai saat ini, PTM terbatas di Siak masih aman, tidak ada cluster baru.   “Pengawasan yang kami lakukan tanpa diketahui murid dan pelajar. Kami melakukan pengawasan secara terpadu, melibatkan guru, orangtua dan pemangku kepentingan. Kami ingin murid dan pelajar tetap konsentrasi dan tenang berada di sekolah,” terang Budhi Yuwono.   Standarnya dimulai dari orangtua. Para orangtua yang melepas anaknya ke sekolah, memastikan anaknya sehat, dan mengenakan masker. Mengingatkan anaknya untuk rajin mencuci tangan, menjaga jarak dan tidak berkerumun.   “Kepada guru agar memastikan murid atau pelajar pergi ke sekolah dalam keadaan sehat. Dan mengajar dengan prokes ketat,” terang Budhi Yuwono.   Satgas terus melakukan pengawasan dan memastikan sekolah memenuhi standar yang telah ditetapkan, salah satunya guru wajib sudah vaksin. Dan tidak mengajar jika dalam keadaan sakit, serta mematuhi prokes.   “Pengetatan pengawasan terpaksa kami lakukan agar tidak ada cluster baru di sekolah. Kami terus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, pihak sekolah. Kami benar benar ingin PTM tetap terus berlangsung,” tutur Budhi.

Pembelajaran Tatap Muka di Siak Mulai Dilaksanakan
Pendidikan

Pembelajaran Tatap Muka di Siak Mulai Dilaksanakan

Siak, Petah.id - Kasus penyebaran Covid-19 di Kabupaten Siak sejak beberapa pekan terakhir menunjukkan angka yang melandai turun.Hal itu membawa angin segar bagi orang tua murid agar anak mereka bisa kembali mengenyam ilmu dengan bersekolah tatap muka.Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Siak, Lukman mengatakan proses belajar tatap muka sudah bisa dilaksakan oleh sekolah dengan protokol kesehatan yang ketat."PTM terbatas untuk SD dan SMP sudah dimulai sejak Selasa (14/9/2021). PTM terbatas ini harus dilakukan dengan prokes yang ketat agar semuanya bisa berjalan dengan lancar," ungkap Kadisdik dan Kebudayaan Kabupaten Siak, Lukman.Secara teknis, dalam seminggu anak-anak murid bisa melakukan pembelajaran tatap muka sebanyak 2 - 3 kali. Hal itu dikarenakan dalam satu kelas hanya boleh diisi oleh setengah dari jumlah seluruh murid dalam satu kelas."Satu kelas itu hanya boleh separuhnya yang boleh belajar tatap muka dari jumlah murid. Dan secara bergantian besoknya. Itu dilakukan sebagai salah satu langkah agar tidak ada kluster di PTM," jelas Lukman.Memastikan PTM berjalan baik dan lancar, Kadisdik dan Kebudayaan Lukman meninjau SMPN 1 dan SD 01 Siak.Kadisdik Lukman tiba di SMPN 1 Siak sekitar pukul 08.00 WIB. Ada wastafel di gerbang sekolah. Lukman menyempatkan diri mencuci tangan, sebelum meninjau PTM.Masuk ke lingkungan sekolah, Lukman bertemu dengan Kepala SMPN 1 Arniza yang sedang berkeliling melihat proses belajar mengajar. Selanjutnya Lukman didampingi Arniza meninjau proses PTM hari pertama.Di hadapan para pelajar yang jumlahnya 50 persen dari jumlah isi kelas itu, Lukman mengajak untuk mematuhi prokes dengan cara mengenakan masker dan rajin mencuci tangan.“Tetap menjaga jarak dan jaga kesehatan. Jangan sampai PTM menjadi cluster baru,” pintanya.Selanjutnya Lukman meninjau Lab Komputer, di dalamnya ada 15 pelajar yang sedang mengikuti assesment secara nasional. Ada 50 pelajar SMPN 1 Siak yang menjadi perwakilan. Tujuannya untuk menguji mutu sekolah. Dan untuk mendapatkan 50 pelajar itu, kementerian memilihnya secara acak.Guru pembimbing melaporkan kepada Lukman, kendala ada pada jaringan dan beberapa hal lainnya. Namun, masih dapat diatasi. 50 pelajar dibagi menjadi tiga kelompok. Selanjutnya,  Lukman menuju ruang guru, di ruang guru Lukman mengingatkan pentingnya mematuhi prokes. Pastikan siapapun yang pergi ke sekolah dalam keadaan sehat.“Guru atau pelajar yang flu, batuk, demam, sebaiknya tidak ke sekolah,” kata Lukman.Agar PTM ini dapat berjalan lancar sesuai harapan, diperlukan kerja sama semua pihak. Mulai dari membatasi interaksi murid.Masuk kedalam ruang belajar kelas VI, Lukman memastikan semuanya mengenakan masker. “Saya minta semua dapat disiplin mengenakan masker di mana saja berada. Memang awalnya tidak nyaman, tapi kalau sudah terbiasa merasa tidak enak jika tidak mengenakannya,” kata Lukman.Lukman sempat berkeliling, bahkan melihat kelas yang dihuni murid kelas I. Begitu ceria murid-murid yang terdiri dari berbagai suku, bangsa dan agama. Lukman ikut gembira menyaksikan situasi itu.Hanya ada satu kelas yang hanya diisi oleh lima murid, ternyata lima murid lainnya dalam keadaan sakit.“Memang sudah menjadi aturan, murid yang sakit harus berobat dan istirahat. Ketika sudah sembuh baru ke sekolah,” kata Lukman.Ditambahkan Lukman, atas kunjungannya di dua sekolah itu, Lukman mengatakan prokes ketat sudah diberlakukan.“Saya berharap sekolah lainnya melakukan hal yang sama. Mari bersama sama menjaga anak-anak kita agar tetap PTM, dan mematuhi prokes, sehingga terhindar dari Covid-19,” kata Lukman.Kepala SMPN 1 Arniza mengatakan pihaknya benar benar siap untuk PTM ini. Sebab pelajar memang harus belajar tatap muka, dengan prokes ketat.“Kami berusaha pelajar merasa nyaman di sekolah, seperti rumah kedua. Sehingga suasana di sekolah benar benar penuh kekeluargaan dan semangat belajar pun muncul,” kata Arniza.Hal yang tidak jauh beda dikatakan Kepala SD 01 Siak Andrayanti. Baginya, PTM solusi bagi muridnya untuk beradaptasi.“Kami sudah siap untuk menggelar PTM dengan  prokes ketat. Para orang tua menyetujuinya. Kami berusaha memberikan pengawasan maksimal dan mengajar dengan penuh ketulusan, sebab mereka adalah masa depan kita,” kata Andrayanti.

Air Genangi Ruang Kelas, Murid di Siak Tetap Belajar
Pendidikan

Air Genangi Ruang Kelas, Murid di Siak Tetap Belajar

SIAK, Petah.id  - Pamandangan tak biasa tampak di Sekokah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Hubbul Wathan, Jalan Hang Tuah, Kelurahan Sungai Apit, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau.Tampak sejumlah anak-anak murid beserta gurunya sedang melakukan proses belajar mengajar di ruangan yang digenangi air.Demikian dikatakan Kepala Sekolah MI Hubbul Wathan Gustiyana, disebutkannya, pemandangan seperti itu setiap tahun terjadi. Penyebabnya karena air pasang naik tinggi dan kali ini sudah dua hari ruang kelas ini digenangi air." Kalau orang awak cakap ini pasang keling, terendam dah dua hari," ungkap Gustiyana, Rabu (13/1/2021).Dijelaskannya, peristiwa itu tidak ada hubungannya dengan curah hujan yang tinggi."Tak ada hubungan dengan hujan, laman itu kering, pas pasang besar naik, air sampai dalam kelas, sebab belakang sekolah kami laut/sungai," jelasnya.Kondisi itu, kata Gustiyana lebih jauh, tidak menyurutkan semangat anak murid dan guru untuk tetap melakukan proses belajar."Kami belajar selagi kami bisa, kalau pagi air belum naik.  Semalam jam 9.00 Wib air naik,hari ni jam 9.30Wib air naik," kata dia.Menurutnya, selagi air belum masuk ke ruangan kelas pihaknya terus melakukan proses belajar."Setelah air masuk kami masih belajar, ketika air semakin tinggi baru kami balek," ungkapnya.Dijelaskannya, kondisi seperti ini merupakan kondisi alam. Saat ini, Gustiyana berharap kepada orang tua murid untuk memaklumi kondisi tersebut."Memang sudah kondisi alam, kalau dari segi aliran parit dah bagus. Cumo harapan kami kepada orang tua siswa ketika kondisi seperti ini terjadi harap maklum anak tak bisa belajar degan maksimal, baik dari segi penyampaian materi maupun dari segi waktu," jelasnya.Pihak sekolah terus memanfaatkan waktu pagi ketika kondisi air belum naik terlalu tinggi untuk belajar. Namun, ketika air sudah masuk ruang, sebagian anak dipulangkan." Ada tiga ruang kelas yang agak tinggi dan tak masuk air, 3 ruang ini kami khususkan untuk kelas 1 dan 6 dengan pertimbangan kelas 1 merupakan kelas awal yang perlu belajar dengan bimbingan guru, sedangkan kelas 6 merupakan kelas akhir yang akan mendekati ujian," beber Gustiyana.Dari informasi warga sekitar, besok, Kamis (14/1/2021) merupakan puncak besarnya terjadi kenaikan air pasang."Untuk rungan kantor guru dan gedung lain terpisah dari ruang belajar sehingga tidak terkena banjir. Sebab ruang kantor diseberang jalan dan posisinya agak tinggi," ungkapnya.

Pembelajaran Tatap Muka Upaya Selamatkan Generasi
Pendidikan

Pembelajaran Tatap Muka Upaya Selamatkan Generasi

SIAK, Petah.id -Pemerintah Kabupaten Siak, Riau sudah berlakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) sejak 4 Januari 2021 lalu di tengah pandemi Covid-19.PTM dilakukan sesuai Surat Keterangan Bersama (SKB) empat menteri, terdiri dari Menteri Pendidikan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri untuk pembelajaran tatap muka.Disebutkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, hingga hari keempat sebanyak 90 persen Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kabupaten Siak mengikutinya.Demikian dikatakan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Siak H Lukman SSos MPd. Menurut Lukman, PTM dilakukan sebagai upaya penyelamatan kehidupan peserta didik di masa yang akan datang. Ada 3 poin penting yang menjadi acuan Disdik Siak dalam pelaksaan pembelajaran tatap muka."Tiga acuan itu, terkait tumbuh kembang peserta didik, baik secara fisik maupun secara emosional. Kami memikirkan dan khawatir tentang kehidupan mereka di masa yang akan datang, sekaligus menekan adanya indikasi putus sekolah," ungkap Kadisdik Siak Lukman,  pada Kamis (7/1/2021) siang.Pembelajaran tatap muka ini, kata Lukman, pihaknya melakukan berbagai strategi agar proses belajar mengajar berjalan dengan aman.Untuk pembelajaran di masa seperti ini, jumlah murid di kelas maksimal 50 persen. Sedangkan jam belajar maksimal 3 jam, atau dari pukul 08.00-11.00 WIB. Dan sepekan hanya belajar dua hari, untuk masing masing murid. "Kami membuat panduan apa yang harus dilakukan peserta didik dalam proses belajar mulai berangkat dari rumah hingga pulang ke rumah lain agar aman dan ancaman Covid-19," jelasnya.Yang jelas, tambah Lukman, Jumat dan Sabtu dilakukan belajar dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi peserta didik yang tak masuk sekolah.Sementara, untuk waktu pembelajaran di kelas, sekolah diwajibkan belajar maksimal hanya sampai pukul 11.00 Wib."Tidak ada jam istirahat, peserta didik wajib bawak bekal makan dan minum dari rumah, begitu juga bagi gurunya, gurunya diminta untuk makan bersama di dalam kelas bersama murid," kata Lukman.Di dalam kelas jarak tempat duduk antar murid minimal 1,5 meter. Dan satu kelas dibatasi hanya 50 persen dari jumlah murid.Setiap sekolah yang mengikuti  pmebelajaran tatap muka, kata Lukman lebih jauh, harus memenuhi daftar periksa, baik administratif dan fisik."Untuk administrasi harus dapat izin orang tua dan harus ada izin komite sekolah," jelasnya.Semua hal itu, jelasnya, pihaknya terus melakukan penekanan terhadap prokes. Lukman mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak Dinas Kesehatan." Kami sampaikan bahwa untuk hal-hal jika ada gejala atau kasus tentang Covid-19 segera dikomunikasikan ke puskesmas terdekat dan Diskes siap untuk itu," ungkapnya.Satgas Covid-19 kecamatan sampai sejauh ini dilibatkan. Tujuannya agar PTM berjalan lancar sesuai harapan bersama. Tidak ada cluster baru setelah ini.

Pastikan Penerapan Prokes, Kapolres Siak Kunjungi Beberapa Sekolah Di Kecamatan Siak
Pendidikan

Pastikan Penerapan Prokes, Kapolres Siak Kunjungi Beberapa Sekolah Di Kecamatan Siak

SIAK, Petah.id - Diberlakukannya kembali proses belajar tatap muka setelah beberapa bulan dilakukan secara daring pada awal tahun 2021 di Kabupaten Siak, sekolah-sekolah wajib menerapkan protokol kesehatan.Langkah ini di lakukan untuk mencegah meluasnya penularan Covid-19.Sejak pagi, terlihat staf sekolah telah berada di pintu gerbang masuk sekolah untuk memeriksa suhu tubuh setiap siswa yang hendak masuk ke lingkungan sekolah. Para siswa juga diminta untuk tetap menggunakan masker selama berada di sekolah.Kapolres Siak AKBP Gunar Rahadiyanto turun langsung melakukan pengecekan penerapan protokol kesehatan cegah Covid-19 di beberapa sekolah di wilayah Kecamatan Siak, Kamis (8/1/2021).Kapolres Siak mengatakan, pada hari pihaknya langsung turun untuk melakukan pengawasan penerapan protokol kesehatan."Pagi ini saya bersama jajaran langsung turun ke sekolah- sekolah untuk mengecek penerapan protokol kesehatan. Alhamdulillah, secara keseluruhan sekolah- sekolah menerapkan anjuran sesuai dengan protokol kesehatan," kata AKBP GunarAKBP Gunar juga mengatakan, sekolah- sekolah telah menyiapkan sarana dan prasarana pendukung protokol kesehatan seperti tempat cuci tangan dan alat thermogun untuk mengukur suhu badan anak anak."Pantauan kita semua sekolah sudah menyiapkan, anak-anak juga memakai masker dalam proses belajar mengajar. Kita harap ini berjalan dengan lancar," ungkapnya.AKBP Gunar juga menjelaskan bahwa sekolah-sekolah di Kabupaten Siak belum seluruhnya memulai proses belajar mengajar tatap muka."Dari keterangan kepala sekolah dan guru yang saya kunjungi pagi ini 1 kelas dibagi menjadi dua kelompok yang masuk bergantian 2 kali dalam seminggu dan yang tidak masuk tetap akan melakukan belajar secara daring," katanya.Diakhir kunjungan nya kesekolah sekolah AKBP Gunar mengingatkan kembali kepada Kepala sekolah dan guru guru agar serius dalam melakukan pengawasan terhadap penerapan protokol kesehatan cegah Covid - 19 disekolah." Kita berharap seluruh sekolah yang melakukan proses belajar tatap muka betul betul serius menerapkan protokol kesehatan cegah Covid-19 baik oleh murid maupun guru guru nya, seluruh ruangan kelas kita minta untuk membuka jendela agar sirkukasi udara nya tetap terjaga, mudah mudahan dengan upaya yang kita lakukan secara maksimal dapat mencegah terjadinya penyebaran Covid - 19," tutup Kapolres Siak.

Alfedri Sebut 80 Persen Sekolah di Siak Siap Lakukan Belajar Tatap Muka
Pendidikan

Alfedri Sebut 80 Persen Sekolah di Siak Siap Lakukan Belajar Tatap Muka

SIAK, Petah.id - Sebanyak 271 sekolah di Kabupaten Siak, Provinsi Riau menyatakan siap untuk melaksanakan proses belajar mengajar secara tatap muka.Guru dan murid melakukan belajar tatap muka setelah beberapa bulan melaksanakan proses belajar dengan daring.Seperti dikatakan, Bupati Siak Alfedri, berdasarkan data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Siak, sebanyak 80 persen sekolah siap mengikuti pembelajaran tatap muka."Untuk tingkat SD baik Negeri maupun Swasta yang siap belajar tatap muka sebanyak 183 sekolah sementara yang belum siap sebanyak 47 sekolah," kata Alfedri.Tingkat SMP, tambah Alfedri, jumlah sekolah tingkat menengah itu di Siak berjumlah 110  sekolah dengan rincian 82 sekolah Negeri dan 28 sekolah Swasta." Yang siap dan memenuhi syarat untuk melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) tingkat SMP sebanyak 88 sekolah dengan rincian 70  sekolah negeri dan 18 sekolah swasta," tambah Alfedri.Setiap sekolah, jelas Alfedri, harus menyiapkan alat termogan, tempat cuci tangan, masker dan menyusun kursi tempat duduk murid agar menjaga jarak."Bagi yang belum memenuhi persyaratan daftar periksa maka belum bisa melakukan proses belajar tatap muka, namun, bagi yang telah memenuhi persyaratan,maka akan dimulai pada hari ini," kata Alfedri.Persetujuan dari orang tua siswa, lanjut Alfedri, merupakan bagian dari persyaratan untuk proses pembelajaran tatap muka."Apa bila orang tua siswa tidak menyetujui,maka siswa akan melakukan pembelajaran melalui daring," jelasnya." Dan suhu tubuh Siswa diatas 37,3 Derajat Celcius agar pihak sekolah mengamankan siswa tersebut," tutupnya.

Halaman 1 dari 2